http://www.syahrudinpaudpo.com

Senin, 25 Januari 2016

Metodologi dakwah


DEFINISI METODOLOGI DAKWAH 

PEMBAHASAN
DEFINISI METODOLOGI DAKWAH
Oleh: Syahrudin, M.Pd.I

A. Pengertian metodologi dakwah.
Metodologi Dakwah adalah cara yang dilalui seorang da’i dalam menyampaikan pesan dakwah keislamannya, atau cara seorang da’i dalam penerapan pendekatan dakwah.
B. Pembagian Metodologi Dakwah.
Macam-macam metode banyak jumlahnya. Dalam Al-Qur’an surat Al-Nahl ayat 125 terdapat tiga hal yang menjadi prinsip utama methode-methode yang ada:
"Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" [An-Nahl : 125]
Dalam ayat diatas secara jelas Allah SWT memberikan anjuran dalam menyampaikan dakwah, yaitu Al-Hikmah, Mauidzah, dan debat atau Jadalah. Maka sangat penting seorang da’i mengacu pada prinsip diatas dalam menyampaikan dakwah keislamannya.
Berikut macam-macam dari metode dakwah:
1) Metode Al-Hikmah
Hikmah secara bahasa memiliki beberapa arti: al-Adl, al-Ilm, al-Hilm, al-Nubuwah, al-Qur’an, al-Injil, al-Sunnah, dan lain sebagainya. Para ulama telah mendefinisikan secara istilah. Al-Hikmah berarti mengetahui sesuatu yang terbaik dengan pengetahuan yang paling baik. Ibn Katsir menafsirkan kata Hakim, dengan keterangannya, hakim dalam perbuatan dan ucapan, hingga dapat meletakan sesuatu pada tempatnya.
Dakwah al-Hikmah, yang berarti dakwah bijak, mempunyai makna selalau memperhatikan suasana, situasi, dan kondisi mad’u dan al-Hikmah ini ditujukan kepada mad’u yang kapasitas intelektual pemikirannya terorganisasikan khawas, cendikiawan, atau ilmuwan. Dengan demikian maka Hikmah itu menggunakan cara yang relevan dan realistis hingga dapat diterima oleh mad’u.
a) Al-Hikmah berdasarkan sumbernya
1. Allah menyebut namanya dengan kata hikmah dalam Al-Qur’an sebanyak 80 kali.
2. Diantara pekerjaan Rasulullah saw, adalah mengajarkan Hikmah.
3. Allah menganjurkan untuk berdakwah dengan Metode Hikmah ini, dalam surat Al-Nahl ayat 125.
b) Al-Hikmah berdasarkan Sistem dan Strukturnya.
Dalam proses menjalankan metode dakwah dengan Al-Hikmah tentunya memiliki sistem dan strukturnya. Rasulullah SAW adalah salah satu yang menggunakan metode Hikmah. Beliau sering menggunakan cara Hikmah dalam menyampaikan dakwahnya, contoh saat beliau menghadapi pemuda yang meminta izin kepada beliau untuk berzina. Rasulullah saat itu menggunakan seluruh sistem dalam Pendekatan Hikmahnya, beliau menggunakan pikiran, perasaan dan segala pengalamannya dalam menghadapinya.
Dari apa yang dicontohkan Rasulullah, dapat kita petik sistem yang dipakai dalam pendekatan Hikmah ini. Dari mulai menggunakan pemikiran, perasaan dan pengalamannya membuat beliau sukses dalam menghadapi problem yang ia hadapi. Karena beliau menganalisis terlebih dahulu apa yang ada dalam jiwa sang pemuda dan mengetahui yang menjadi keinginan diri sang pemuda. Dengan cara itu Rasull mampu memberika penyelsaian yang sesuai dengan jiwa orang yang merasakan masalah tersebut.
c) Al-Hikmah berdasarkan Thabaqoh dan Bentuknya
Dalam konteks pelaksanaannya, metode Al-Hikmah lebih efektif dalam konteks Dakwah Fardiyah, fi’ah dan Ummah. Dakwah Fi’ah sendiri memiliki pengetian, dakwah yang dilakukan terhadap kelompok kecil. Term fi’ah diambil dari Surat Al-Baqarah ayat 249. Sementara dakwah ummah berarti dakwah yang dilakukan pada mad’u yang bersifat masal.
Al-Hikmah lebih condong efektif dengan tiga thabaqah konteks tersebut diatas karena sifat yang dimiliki al-Hikmah sendiri yaitu, menyeru dengan menyesuaikan situasi, kondisi dan emosionalnya sang mad’u. Seperti contoh dalam konteks keluarga yang termasuk dakwah fi’ah. Seorang ayah yang menyeru anak-anaknya akan serta merta menyesuaikan dengan kondisi fisik atau nalar sang anak.
Al-Hikmah dipandang dari segi bentuk dakwah, mengarah pada bentuk dakwah Tablig dan Irsyad. Karena unsur utama Hikmah adalah seruan yang juga ciri utma dakwah tablig juga irsyad. Seperti dalam bentuk irsyad, seorang penyuluh akan memberi jawaban atas problem yang dihadapi pasennya dengan sebuah jawaban yang sudah dengan tepat dianalisis dengan keadaan sang pasien. Dan masih banyak contoh yang dapat diambil dalam bentuk Hikmah ini.
2) Metode Mauidhah
Secara etimologis mauidzah merupakan bentuk asal dari kata waadza-yaidzu-iwa’dzan; yang memiliki arti menasehati dan mengingatkan akibat suatu perbuatan. Selanjutnya Mauidzah menurut kebanyakan pendapat para ilmuan memiliki sinonim dengan nasehat. Dalam lintas sejarahnya, metode ini menjadi bagian terpenting dalam pelaksanaan dakwah para Nabi terdahulu termasuk Nabi Besar Muhammad SAW.
Bagi sebagian ulama mengharuskan ada tambahan kata sesudah kata Mauidzah, karena nasehat masih bersifat umum yang bisa dikatkan dengan nasehat kejahatan dan lainya yang berefek negatif. Maka dapat kita lihat diberbagai sumber, kata Mauidzah selalu memiliki terusan kata Hasanah untuk menunjukan kekhususan kata Mauidzah sebagai nasehat yang baik.
1) Mauidzah Hasanah berdasarkan Sumbernya
1. Surat Al-Nahl ayat 125.
2. An-Nissa ayat 63.
3. Nasehat atau Mauidzah adalah sebagai dasar Agama, seperti diungkapkan Rasull dalam Sabdanya, “Agama adalah Nasehat.”
2) Mauidzah Hasanah berdasarkan Sistem dan Strukturnya
Dalam sebuah sistem yang didasrkan pada Prinsif metode Mauidzah Hasanah ada hal yang penting yang mesti diperhatikan. Yaitu cara penyampaian nasehat dan isi nasehat itu sendiri. Dalam ilmu komunikasi ada beberapa cara agar dalam menyampaikan nasehat dapat menghasilkan respon yang kita inginkan, diataranya dengan cara menganalisi kepribadian orang yang akan dinasehati dan menganalisis bentuk masalah yang menjadi akibat datangnya sebuah nasehat.
3) Mauidzah Hasanah berdasarkan Thabaqoh dan Bentuknya
Mauidzah atau Nasehat berdasarkan pada Thabaqahnya merujuk pada konteks dakwah fardiyah. Fardiyah sendiri memiliki pengertian, Ajakan atau seruan kepada perorangan. Dalam ilmu komunikasi dikenal kata Interpersonal yang berarti komunikasi yang melibatkan dua orang saja.
Sedangkan Mauidzah Hasanah atau Nasehat dipandang dari bentuknya merujuk pada bentuk dakwah yang dikembangkan oleh Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) di Universitas Negeri Islam. Kajian itu merujuk pada Irsyad yang berarti proses penyampaian ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, penyuluhan dan psikoterapi. Dan dalam konteksnya Irsyad menggunkan prinsif dakwah Mauidzah atau nasehat dalam menyampaikan segala hasil anasisnya.
3) Metode Mujadalah
Mujadalah merupakan upaya dakwah melalui bantahan, diskusi, atau berdebat dengan cara yang terbaik. Seperti halnya pada metode Mauidzah, Kata Mujadalah dianggap harus memiliki kata tambahan sebagi prinsif dakwah. Maka para ulama menambahkan kata al-ahsan setelah kalimat mujadalah, untuk menuunjukan unsur positif pada prinsif mujadalah ini. Prinsif metode ini ditujukan kepada mad’u yang melakukan penolakan, tidak peduli atau mungkin membantah.
Drs. H. Rohandi Abdul Fatah, M.Ag dan Drs. M. Tata Taufik, M.Ag menyampaikan dalam bukunya bahwa Para Ulama mendefinisikan secara khusus tentang Mujadalah ini, seperti dibawah ini:
1. Usaha yang dilakukan seseorang dalam mempertahankan agrumen untuk menghadapi lawan bicara.
2. Cara yang berhubungan dengan pengukuhan pendapat.
3. Membandingan berbagai dalil atau landasan untuk mencari yang paaling tepat.
Prinsif Mujadalah atau perdebatan bukan sarana mencari siapa yang menang dan yang kalah, akan tetapi merupakan sesuatu yang dipakai untuk mempertahankan dan meluruskan kegiatan dakwah. Oleh karena itu diharapkan seorang da’i memiliki kearifan dalam pemakaian metode Mujadalah ini.
a) Mujadalah al-Ahsan berdasarkan Sumbernya
1. Allah memerintahkan menggunakan metode Mujadalah dalam surat Al-Nahl: 125 dan surat Al-Ankabut: 46.
2. Metode ini merupakan akibat dari tabiat fitrah manusia yang suka membantah. Seperti dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi:54
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”
b) Mujadalah al-Ahsan berdasarkan Sistem dan Strukturnya
Secara sistem, Metode Mujadalah dilakukan dengan alasan adanya pembantahan dan penolakan dalam proses dakwah. Dengan demikiian Mujadalah merupakan sesuatu yang amat penting dalam pelaksanaan dakwah, terutama di zaman seperti sekarang ini. Namun harus juga diperhatikan subtansi dan efek yang akan ditimbulkan jika dalam perdebatan dengan pihak yang membantah kita justru terpojokan bukan karena Subtansi keislamannya tapi karena kekurangan kemampuan dalam metode ini.
Para pelaku dakwah harus memiliki kekuatan pemikiran yang luas dan memiliki mental yang kuat pula saat menghadapi pembantahan yang mungkin akan memancing dan menguji mental seorang da’i.
c) Mujadalah al-Ahsan berdasarkan Thabaqoh dan Bentuknya
Metode Mujadalah al-Ahsan ini bisa dilakukan dalam beberapa konteks Thabaqoh. Diantaranya, Fardiyah, Fi’ah, Ummah, dan Hizbiyah. Jadi, metode Mujadalah atau perdebatan bisa terjadi pada konteks face to face atau juga bisa dalam konteks antar kelompok kecil juga. Dalam perkembangannya sering kita simak perdebatan antar Agama, termasuk didalamnya para Da’i yang membela panji Islam. Konteks seperti itu termasuk Thabaqah yang tinggi mencakup tingkat global.
Dipandang dari segi bentuknya, metode Mujadalah hanya condong pada kegiatan dakwah dengan bentuk Tablig. Karena tablig bersifat insidental, oral, masal, seremonial, bahkan kolosal.

Selasa, 24 November 2015

Hari Guru tahun 2015



HARI GURU DI PONOROGO
Syahrudin, M.Pd.I
Hari Guru Indonesia jatuh pada tanggal 25 November setiap tahunnya. Hari Guru  adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, Hari Guru merupakan hari libur nasional.
Di Indonesia sendiri penetapan tanggal 25 November sebagai Hari Guru  didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Tanggal ini bertepatan dengan pembentukan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945.
Pada masa pemerintahan Belanda kaum guru membentuk sebuah organisasi yang dinamai Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Organisasi yang dibentuk tahun 1912 tersebut anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Sejalan dengan keadaan itu, maka selain PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan sebagainya.
Dua dekade berselang, nama PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini membuat geram pemerintah Belanda, karena penggunaan kata "Indonesia". Semangat kebangsaan  para guru tersebut sangat tidak senangi oleh penjajah waktu itu. Sebaliknya, kata "Indonesia" ini sangat diinginkan oleh guru dan bangsa Indonesia.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. 
Sayang, pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang dan sekolah ditutup sehingga PGI tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Namun, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi dasar PGI untuk menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24–25 November 1945 di Surakarta.
Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Di dalam kongres inilah, tepatnya pada 25 November 1945, PGRI didirikan. Dengan demikian tahun 2014 ini merupakan 69 tahun berdirinya PGRI.
Di Indonesia sendiri Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Guru di Indonesia dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Perayaan Hari Guru di Berbagai Negara
Hari Guru diperingati pada tanggal yang berbeda-beda di berbagai negara. Dan tentunya penetapan Hari Guru di negara-negara tersebut juga didasarkan pada alasan yang berbeda-beda. Di India misalnya hari Guru diperingati setiap tanggal 5 September yang bertepatan dengan hari ulang tahun mantan Presiden India Dr. Sarvapalli Radhakrishnan yang juga seorang guru ditetapkan sebagai hari guru. Di sekolah-sekolah diadakan perayaan, dan murid yang paling senior memainkan peran sebagai guru.
Di Korea Selatan Hari Guru diperingati setiap tanggal 15 Mei. Hari guru dirayakan sejak tahun 1963 di Seoul, dan sejak tahun 1964 di kota Chuncheon. Perayaan ini dimulai oleh sekelompok anggota palang merah remaja yang mengunjungi guru-guru yang sedang sakit di rumah sakit. Perayaan hari guru secara nasional tidak dilangsungkan dari tahun 1973 hingga 1982, dan baru dilanjutkan kembali sejak 1983. Hingga saat ini setiap Hari Guru para guru di Korea Selatan menerima hadiah bunga anyelir.
Hari Guru di Iran ditetapkan pada tanggal 2 Mei. Di Malaysia Hari Guru diperingati setiap tanggal 16 Mei karena pada 16 Mei 1956, Majelis Undang-Undang Persekutuan Tanah Melayu menerima rancangan kurikulum dari Laporan Jawatankuasa Pelajaran. Di RRT Hari Guru jatuh pada tanggal 10 September dan di Singapura Hari Guru adalah tanggal 1 September dan sekaligus ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Sebuah negara hanya bisa menjadi besar jika menghormati jasa para gurunya. Semoga bertepatan dengan Hari Guru, Indonesia bisa memberikan penghormatan tertinggi kepada para guru.


Dan karena jasa dan perjuangan yang telah dilakukan oleh para guru di tanah air, maka Pemerintah RI melalui Kepres No 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal berdirinya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.
Keppres itu juga dimantapkan di UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menetapkan tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional, yang kerap diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI.


Diklat K13

Diklat K13

Penyusunan Silabus RA

Penyusunan Silabus RA